Dialog di Sebuah Kota

Dalam hari yang sibuk dan tak ramah, ketika aku benar-benar lupa mengenali diriku sendiri. Aku terbiasa menengadah ke arah langit di atas gunung belakang kota. Aku memeluk perasaan menyesakkan di dalam hatiku, membuatnya sederhana, meski hanya sedikit.

Kamu bisa melihatnya kan? Sayap-sayap kertas yang beterbangan ketika aku mulai berlari. Meski kepiluan berat menyergapku tiba-tiba, aku bisa melukiskannya lagi dengan gambar yang ringan.

Meski kadang tak seiringan, kita sama-sama terus melaju. Aku tak pernah lupa sepatu usangku yang kau lempar ke semak-semak itu. Juga sepeda bengkok yang mengantar petualangan kita.

Seperti biasa, selepas mentari tergelincir kita pergi ke taman untuk membeli cemilan.

Aku bertanya

“Maukah kamu untuk mencoba meraih langit yang aku dambakan?”

Agar aku tak perlu lagi berfikir untuk menemukan senyum itu sendirian

Selamanya kamu ada untukku, merawat tulusnya senyuman meski tak ada yang mengajarkanku sebelumnya.

Re:

“Kau mungkin akan menyesal”,

ucapku dengan lirih.

Terkenang kembali rentetan perih yang menghujam menjadi dendam. Kala hujan menenggelamkan sudut kota yang tak bisa kunikmati selain dengan kesepian.

Ingin aku menghadapimu, dan bertanya

“Apakah kali ini aku bisa percaya?”

“Apakah denganmu aku akan aman?”

“Apakah kalau kau datang, aku bisa melihat langit dengan senang, tanpa harus mereguk air mata?”

Jauh di dalam hati, aku ingin bisa percaya tanpa perlu dikhianati. Tapi kali ini, aku masih terlalu takut

Masih teramat takut..


Oleh: Indra Arko & Aisyahgis

Pic: @fajri_harahap (Instagram)

2 thoughts on “Dialog di Sebuah Kota

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *