Aeri’s Diary: “Kota Ini”

Remang senja menerawang di balik pepohonan tinggi, di balik gedung pembatas itu. Celah-celah terang masih menyapa kedua mataku. Sedikit menyilaukan. Aku pun harus menyipitkan mataku tatkala ingin melihat ke arah peron. Aku menanti rangkaian besi raksasa untuk membawaku kembali ke kota yang kini aku rindukan. Kota yang tuhan takdirkan untuk mempertemukanku dengan dirimu, sosok yang mampu menggetarkan kembali hatiku. Setelah sekian lama mengarungi waktu dalam keheningan.

Ting, ting, ting.

Lonceng tanda kedatangan keretaku dibunyikan.  Salah satu metode komunikasi yang tidak berubah dari waktu ke waktu dari sisi sebauh stasiun. Jika saja 20 tahun atau 30 tahun lagi aku diizinkan untuk bertemu kembali dengan stasiun, mungkin saat aku mendengar suara itu, aku akan teringat kembali dengan masa-masa seperti ini. Sendiri dalam penantian di antara hiruk pikuk penghuni peron.

Ya, aku masih dalam sebuah penantian. Satu hal yang sangat dibenci oleh seluruh umat manusia. Sebuah ketidakpastian yang merenggut detik demi detik mereka. Hidup ini memang penuh dengan ketidakpastian nyatanya. Seberapa jauh lagi aku harus melangkah untuk mencapainya, satu mimpi yang ingin kugapai. Seberapa lama lagi aku harus menanti, satu hati menyapaku untuk melangkah bersama.

Ah, aku benar-benar nyaris lupa. Memang begitulah cara Tuhan mencintai hamba-hambanya. Sebuah ujian. Ujian raga pun ujian rasa. Ah, kenapa manusia harus memiliki rasa tertarik terhadap lawan jenis. Dasar bodoh. Bukankah itu kalam Tuhan dan juga sebagai salah satu bentuk kasih-Nya. Ia menciptakan rasa tentram dengan kehadiran sosok lain. Ya Tuhan, sampai kapan rasa gelisah ini akan berakhir? Benarkah ia jodohku? Haruskah aku mengutarakan terlebih dahulu agar aku menemui jawaban? Lalu, bagaimana caranya? Surat? Ah, tidakkah itu terlalu kuno. Lagi pula siapa yang akan bersedia menjadi pengantarnya? Lagi pula aku tidak bisa memercayai siapapun, kecuali Engkau, ya Tuhan. Tidak bisakah Kau sampaikan saja pesanku ini. Buatlah hatinya berpaling kepadaku saja.

Tentang surat, ia tidak bisa menjamin setiap rencana akan berujung manis. Di saat rasaku telah terkuak di antara mereka, bisa saja akan menjadi hara yang memperkokoh ikatan jika saja mereka memuji. Atau bisa saja akan menjadi hama yang akan menggerogoti segala yakin ketika mereka mencerca. Dan aku sangat tidak siap untuk menerima kemungkinan yang kedua. Lebih baih rasa ini biarlah bersemayam dalam sanubari. Biarlah kata-kata yang terangkai ini menjadi sebuah pesan tak beralamat. Aku hanya mengharapkan keajaibanmu, ya Tuhan.

***

Aku telah kembali di kota ini. Aku berjalan menuju pintu keluar. Dalam langkah pelan di antara para pesibuk, aku menepi lalu ku tutup mataku seraya menghirup dalam-dalam. Harum ini. Udara yang aku rindukan.

Aku buka kembali mataku lalu aku layangkan ia ke arah langit malam itu. Seperti biasanya, cahaya di bawah sini telah melenyapkan kerlip-kerlip kecil di atas sana. Hanya terlihat jelas satu senyuman bulan. Aku pun turut tersenyum.

Udara, cahaya, dan langit di kota ini, selalu saja menghadirkan sosok dirinya. Koordinat yang telah mempertemukanku dengannya. Ya Tuhan, akankah kota ini menjadi titik temu, menjadi satu saksi sejarah dalam hidupku atau ia hanya akan menjadi tempat singgahku dalam perjalanan lain?

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *