Ramadhan

Ramadhan kurang lebih akan tiba beberapa bulan lagi. Saya jadi teringat Ramadhan dua tahun lalu dan tahun sebelumnya. Ternyata saya amat rindu Ramadhan, bulan dimana saya merasa menjadi manusia yang lebih baik, walau mungkin hanya sedikit. Dua tahun yang lalu Ramadhan saya habiskan dengan tetap di Indekos bersama perkuliahan saya belum usai kala itu. Rasanya saya menikmati Ramadhan dengan senikmat-nikmatnya dimana hati ini bisa merasa tenang. Pagi hari saya habiskan berkutat dengan kuliah dan skripsi, siang hari hingga menjelang buka dihabiskan dengan part time di perpustakaan FKG UGM. Setelahnya saya berbuka di masjid-masjid sekitar kampus dan Indekos yang saya sukai. Kadang di Masjid Pogung Raya (MPR) yang memang dekat sekali dengan Indekos. Kadang sebelahnya, Masjid Pogung Dalangan (MPD), kadang Masjid Siswa Graha, Masjid Kampus dan kadang-kadang jalan agak jauh ke Masjid Syuhada atau bahkan di akhir-akhir Ramadhan menikmati kampung khas ala Masjid Jogokaryan. Ya, meskipun kesemuanya saya lakulan sendirian. Tentu bukan masalah menu berbukanya, tapi memang kajiannya menarik bagi saya yang awam ini. Selain itu, entah kenapa saya merasa sangat damai berada di keramaian tanpa ada satu orangpun yang mengecoh hati dan aktifitas saya. Menghabiskan malam takbiran di atap Indekos sembari menikmati langit malam yang indah di iringi alunan takbir dipenjuru kota, syahdu dan menentramkan. Lalu besoknya di Hari Raya saya berujung dengan sepiring mie instan karena tak ada satu warungpun yang buka setelah menunaikan Shalat Ied. Beruntung, menjelang siang dapat berkunjung ke rumah teman yang berdomisili Jogja, setidaknya saya bisa menikmati sambal goreng kentang hari itu.

Ramadhan di tahun sebelumnya rasanya sungguh parah. Ramadhan yang tidak produktif disambut dengan berbagai masalah. Baik dari masalah kehidupan hingga masalah eksternal seperti penelitian tugas akhir yang tak menunjukkan kemajuan. Meski sama-sama tetap tinggal di Indekos, tapi entah, saya tak bisa mengingat momen apa yang terjadi kala itu. Yang pasti saya sangat merasa sendirian kala itu, dan tidak dapat menikmati apapun.

Terhitung, sudah 3 tahun terakhir kala itu saya menghabiskan Ramadhan tidak ditempat yang ideal. Karena ditahun sebelumnyapun saya menghabiskan Ramadhan di lokasi pengabdian masyarakat (KKN). Cukup berkesan, meski terdapat konflik khas KKN, tapi saya menikmatinya. Terlebih di subunit saya, hanya saya seorang laki-laki yang muslim. Sehingga selama 2 bulan KKN saya adalah Imam tetap yang tak tergantikan. Kadang dalam posisi seperti itu saya menjadi pribadi yang cukup bertanggungjawab. Mengingatkan rekan yang lain untuk senantiasa mengingat-Nya. Terasa kontras ketika saya hidup sendiri di Indekos yang di keseharian tak jarang saya ingkar atas perintah-Nya. Ah saya juga tak boleh bohong kisah romansa konyol itu akan terkenang dibenak saya. Walaupun hari ini semuanya sudah berbeda, saya berterimakasih telah melalui momen itu.

Kira-kira Ramadhan tahun ini akan jadi apa ya? Akankah tahun ini saya bisa merayakan sebuah cinta di hari yang fitrah di tempat ideal bersama sekumpulan orang bernama keluarga? Entahlah. Yang pasti semoga saya diperjumakan dengan Ramadhan tahun ini. Dan semoga tak ada lagi Ramadahan yang saya lalui dengan sia-sia. Amin

Indra Arko

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *