Medium dan Alasan Meninggalkan Tumblr

Entah sejak kapan saya membenci (tidak suka) dengan Facebook. Tapi secara jujur pernah ada masa dimana saya menyukai Facebook dan “anak Facebook”. Hingga pada akhirnya saya sadar bahwa ada yang salah antara hubungan saya dan Facebook. Hingga akhirnya dengan bulat saya meninggalkannya di tahun 2015. Salah satu penyesalannya adalah…, tidak, bukan penyesalan, hanya saja sudah cukup saya mengenal Facebook.

Tak hanya lingkungannya yang berubah (dari penggunanya), tata kelola Facebook yang mengagungkan bisnis iklan membuat saya lelah. Akhirnyapun saya meninggalkan Instagram yang juga mulai berubah total sejak Facebook mengakusisinya dan menjadikannya ladang iklan kedua. Setelah itu pukulan berat itu datang ketika WhatsApp diakusisi juga oleh Facebook. Dalam benak saya sudah terpikir fitur-fitur “berlebihan”, iklan juga cepat atau lambat akan segera datang. Hal itu pulalah yang membuat co-founder WhatsApp Brian Acton dan Jan Koum keluar dari Facebook. Lalu baru-baru ini co-founder Instagram juga ikut menyusul duo WhatsApp.

Jika bernostalgia, dulu saya pengguna awal WhatsApp & Instagram ketika dirilis. WhatsApp kala itu masih di platfrom OS Symbian dengan biaya $1/tahun yang mulai dibayar ketika memasuki tahun ke dua lalu Instagram saya cicipi ketika saya beralih dengan Android, tepatnya generasi awal Android yang masih ber OS 2.2 Frozen Yogurt di Samsung Galaxy Mini yang saya gunakan. Kini, semuanya hanya kenangan. Meninggalkan WhatsApp juga hanyalah soal waktu.

Lalu mengapa saya juga meninggalkan Tumblr? Alasannya tak jauh beda. Sejak diakusisi Yahoo guna menambah profit ditengah lesunya bisnis Yahoo dan skandal kebocoran data pengguna di tahun 2011, saya sudah merasa ada yang berbeda dari Tumblr. Lalu, ketika kini Yahoo colabs dan di Akusisi Verizon dan menjelma menjadi Oath (Perusahaan gabungan Aol dan Yahoo) maka sejak hari itu saya percaya bahwa Tumblr juga tak akan ubahnya Instagram di mata Facebook. Selain itu, pengguna Tumblr yang tumbuh pesat dengan pejuang “reblog”-nya seakan d’javu apa yang terjadi di Facebook. Terlebih, Tumblr juga diblokir oleh pemerintah RI (Kemkominfo) dengan alasan yang konyol. Semua itu membuat saya semakin yakin untuk “hengkang” dari platform tersebut.

Lagi, sebenernya saya juga pengguna awal Tumblr. Tumblr saya gunakan untuk menulis secara spontan, jujur dan apa adanya. Sangat berbeda dari konten WordPress yang saya miliki, dimana isinya sudah saya pikirkan dan konsep terlebih dahulu. Di Tumblr biasanya apa yang saya pikirkan seketika itu pula saya tulis. Bahkan ketika saya memimpin Dept. Media di organisasi kampus dulu, saya mewajibkan semua anggota untuk mempunyai akun Tumblr. Namun di hidup yang berputar dengan pesat, kita memang harus membuat pilihan mana yang ingin kita pertahankan dan ingin kita tinggalkan. Jadi saya memilih hiatus dari Tumblr.

Sekarang, terhitung saya hanya aktif di Twitter (@indra_arko). Bagi saya Twitter adalah sosial media yang masih relevan dengan prinsip saya. Iklan tidak berlebihan serta tidak terlalu banyak perubahan yang kurang perlu membuat saya betah menggunakan Twitter sejak 2010. Tak peduli meski Twitter banyak ditinggalkan orang lain. Dan alasan saya memilih Medium pun juga berawal dari Twitter. Sejak awal saya melakukan riset terlebih dahulu media apa yang akan menjadi pengganti Tumblr. Setelah teringat bahwa Medium adalah salah satu spin off yang dibuat oleh salah satu co-founder Twitter Evan Williams (disamping Jack Dorsey tentunya) maka bukan hal sulit memutuskan untuk beralih menggunakan Medium.

Ya…, jadi selamat datang diri saya sendiri di Medium, salam kenal teman-teman baru Medium. Semoga ditengah kesibukan baru, saya masih bisa menuangkan kegelisahan dan ide-ide sederhana. Teruntuk David Karp, terimakasih atas waktu yang menyenagkan di Tumblr. Tapi kali ini saya “pamit” untuk pergi.

Indra Arko

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *