Surat Dari ”Teman” yang Merindukan Kalian

Ini adalah bagian penutup dari laporan pertanggungjawaban mubes Lingkar Studi Sains ketika “lengser” sebagai Kadept Jurnalistik Sains (Dept. Media). Bagi saya bagian penutup ini lebih dari sekedar pelengkap sebuah laporan yang saya bacakan kala itu. Tapi juga sebuah surat yang saya tulis agar suatu saat ketika saya merasa sedih saya bisa membacanya ulang dan mengenang hal-hal menyenagkan kala itu. “Hey kalian yang ada di sana, apa kabar? Saya rindu kalian. Apakah kalian juga merindukan saya, meskipun sedikit. Tapi yang pasti saya kangen kalian. Semoga kalian semakin baik”

Sinar mentari muncul dengan ceroboh di halaman rumput ini, terbang menghembuskan angin. Ada bulan yang berbeda-beda dalam satu periode, mewarnai semua yang ada di sana. Saat kita melalui bulan yang dingin, sinar mentari dan aroma baru masuk ke dalam hati yang tulus.

Hey. Apa kabar yang ada di sana. Ingatkah perselisihan yang terjadi diantara kita, kita sibuk dengan apa yang menjadi pemikiran pribadi kita sendiri. Pada masa-masa seperti itu kadang kita berpencar dan hilang tanpa suara. Memalingkan wajah masing-masing yang nampak angkuh. Sampai pada akhirnya kita menarik langit biru legam itu jauh-jauh dan kembali bersama.

Banyak yang terlewat memang, beberapa bait yang seharusnya terisi oleh diksi yang indah harus kosong. Tapi dari area yang masih tersisa itu akan memberikan kita sebuah inspirasi yang baru. Kumpulan monolog-monolog kecil berisi harapan, doa serta dedikasi pada kehidupan ini.

Hey, yang ada disana ingatkah dinamika yang terjadi pada keluarga sederhana kita? Dengan penuh semangat kita menjalani semester-semester yang melelahkan. Berjibaku dengan kuliah, tugas dan laporan rasanya memang melelahkan. Pikiran yang jenuh serta imajinasi yang tak kunjung mengalir makin membuat situasinya sulit. Tapi kita selalu berkata “hey, sudahlah apapun idenya, memulai menulis adalah lebih baik daripada berfikir terus”.

Waktu berjalan, ingatkah beberapa rencana hebat pernah kita petik hasil manisnya. Meski kadang kurang konsisten tapi dengan berusaha membenahi setiap jengkal kesalahan yang ada. Namun tak jarang, juga terdapat rencana yang kita sia-siakan dengan alasan dicari-cari. Maaf, rasanya tak cukup untuk menebus kesalahan yang entah sengaja atau tidak sengaja telah dilakukan. Ini bukan hal yang diharapkan. Tapi kita telah belajar kan? Yang pernah kita lakukan benar-benar bukan hanya tentang selesai atau gagal, tentang menang atau kalah, tentang kuat ataupun rapuh. Tapi kita belajar untuk menjadi setulus mungkin.

Walaupun begitu, langit dan bumi tak dapat dibandingkan dengan diri ini. Percayalah suatu saat pasti akan datang harinya kita memetik hasil usaha kita. Membaca dan mengetahui pandangan terhadap aspek kehidupan. Mengerti serta menelaah apa yang kita wakili dari setiap kata yang dihidangkan sebagai sebuah informasi.

Kita ingin semua orang dapat menjadi insan penginspirasi. Sedikit saja goresan tinta yang mereka berikan, kan kita sulap menjadi sebuah kenangan yang menyenangkan. Kita ingin semua mengerti apa yang ditulis bukanlah demi kepentingan seorang semata.

Meski kenyataan berkata seperti itu. Tapi di sini kita akan tumbuh, andaipun kita gagal setidaknya kita melawannya dengan kenakalan yang terhebat di dunia. Jangan meragukan apa pun lagi, kita harus menyampaikan apa yang ada dalam hati kita sebagaimana adanya. Jika tidak, kita tidak akan bisa berlanjut.

Perasaan yang sudah menjadi sangat kuat dan mendalam ini. Terimaksih keluarga, tanpa kita sadari tangan kita saling terhubung, walau tanpa janji atau keputusan apapun. Tanpa kita sadari tangan kita saling terhubung dan kita tersenyum. Aku merasa kita semua seperti itu. Jalan ini masih terlalu panjang untuk di lalui sendiri. Kita seperti senar gitar yang saling terhubung. Jika dipetik melodi seperti apakah yang tercipta? Rasanya dengan bergandeng tangan erat, kita membuat sebuah lagu yang menyenangkan. Ya bukan lagu yang bernada indah tapi sebuah lagu yang sangat berarti.

Semoga periode itu berkesan, maaf belum dapat menjadi pemimpin yang baik, maaf belum dapat menyampaikan banyak ilmu kepada teman-teman semua, dan maaf juga belum bisa menjadi pribadi yang baik. Terimakasih untuk periode tersebut, terimakasih atas kebersamaannya. Ini belum selesai masih ada janji yang belum saya tepati. Jadi bolehkah saya tetap menjadi keluarga dan teman kalian? Masih banyak senyum yang ingin mengembang bersama kalian. Semoga orang yang kita rindukan akan tetap berkarya.

Indra Arko

©Pict. Favim.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *