[Guest Blog Aisyahgis] Aku Ingin Mati Dengan Sederhana

Esok lusa, kalau tubuhku telah membeku dan tidak ada lagi detak jantung. Mulai saat itu, asma tidak bisa lagi menyiksaku, tidak akan lagi kau dengar suara bersinku yang membuatmu bosan.

Saat itu, tidak akan kau lihat lagi perempuan yang sibuk bermesraan dengan pisau dan panci, yang sibuk menata buku dan berbahagia dengan anak-anak.

Saat itu, kau tidak bisa lagi mengkritik kerjaanku. Pun tidak lagi kau akan bertanya-tanya bagaimana cara mencintaiku dengan tepat.

Tidak mengapa, helalah nafas sejenak.
Lalu datanglah ke pemakaman terakhirku. Tapi jangan menangis. Lagipula nampaknya aku tak banyak mencipta kenangan dalam benakmu. Disana tolong doakan aku. Setidaknya sebagai seorang yang seakidah denganmu.

Kalau aku pernah membuatmu kesal dan sebal, tolong maafkan. Kalau masih ada hakmu yang belum aku tunaikan, tolong beritahu pada mereka yang menjadi ahli warisku. Aku sudah menulis surat wasiat. Nanti mereka akan mengetahuinya.

Aku ingin mati dengan sederhana saja. Dengan tenang dan senang. Tidak ada tangis, sebab semoga saat itu adalah pemutusku dari sesaknya dunia ini.

Kamu dan orang-orang yang mengenaliku tidak perlu mengenang. Sebagaimana kehidupanku yang tidak ingin dipandang. Terlebih jika kenangan tentangku justru memicu luka. Lupakan saja aku. Sebab aku hanya ingin melihatmu bahagia.

Dan sebelum hari itu tiba, aku ingin menghidupi hidup dengan sederhana. Aku ingin berbuat baik tanpa perlu merasa baik. Aku ingin memaafkan meski tidak menerima permintamaafan. Aku ingin tetap tulus mencintai meski tidak terbalas.

Aku ingin menghidupi hidup yang membuat namaku makmur di penduduk langit. Hidup yang isinya banyak menggetarkan lapis-lapis langit. Dan membuat ruhku dirindukan tibanya. Benar-benar melepaskan dunia ini dari dalam hatiku.

Semoga, setelah kematianku, hal-hal yang aku upayakan telah bertumbuh subur dan kokoh. Semoga kebaikan-kebaikan yang aku jalankan telah tersebar dan merambat berkali lipat manfaatnya. Semoga cinta yang aku sebar telah mengubah hidup orang banyak. Tak perlu mahsyur namaku tersebut-sebut. tak perlu aku dikenang dalam satu kepala pun.

Selama Rabbku menyaksikan, bahwa sebelum kematianku itu, aku telah mengupayakn sebaik-baiknya untuk menjadi hamba yang dicintai-Nya. Sesederhana itu.

Indonesia, 10/9/18

Gina Aisyah S. aka Aisyahgis – Mahasiswi Ekonomi Islam FEB Universitas Diponegoro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *