Surat Untukmu "A Silent Love Story"

Bagian 1, April 2016

Assalamualaikum Wr. Wb.
Salam Hormat.

Apa kabar? Masihkah kamu sering lupa untuk makan? Aku pikir kamu harus membuktikan slogan go pangan lokal-mu. Rasanya aneh bukan? Menulis surat untuk orang yang kita kenal ketika sebenarnya kita dapat bertemu untuk berbicara. Jahat sekali kan? Dasar egois, keras kepala, bodoh!

Pertemuan kita diawali dengan aku mengira kamu lebih tua dariku, mungkin karena kamu berpenampilan dewasa. Sebelum menulis surat ini, andai boleh memilih, rasanya aku malas untuk mengingat masa lalu kenapa kita bisa dipertemukan. Pengabdian masyarakat, tugas kampus itu terlalu banyak konflik yang rasanya ingin kulupakan saja. Tapi, pada akhirnya momen itu juga yang mempertemukan kita. Jadi, aku rasa banyak hal yang bisa dipetik dari masalah yang ada tanpa harus melupakannya.

Ingatkah hari pertama kita di pondokan kala itu? Dengan polosnya kamu membuatku kerepotan. Koper yang besar milikmu tertinggal di pondokan dusun sebelah. Akupun terpaksa harus membantumu mengambilnya. Dan, ya… kamu tau, medan lokasi pengabdian masyarakat kala itu, sungguh bukan pekerjaan mudah melakukannya dengan sepeda motor.

Oh ya, ingatkah kamu saat menjalani minggu pertama pengabdian masyarakat? Kurasa kita melakukannya dengan payah. Sejauh yang ku ingat, bermain kartu UNO menjadi rutinitas kita dengan teman-teman yang lain. Tapi saat-saat seperti itu menyenangkan bukan?

Sejujurnya, di awal, aku tak menyukai kegiatan pengabdian masyarakat. Bagiku, semunya lebih cepat selesai akan lebih baik. Itu seperti sebuah misi besar untukku. Tapi, sepertinya aku gagal melaksanakan misiku. Ternyata banyak hal yang kudapatkan, dan tentunya perasaan terhadapmu juga telah kurasakan. Rasanya hidupku mulai berubah sejak saat itu.

Apakah perasaan itu membuatku menjadi orang yang berlebihan? Aku sendiri merasa seperti itu. Terkadang memaksakan keinginanku sesuka hati, tanpa peduli terhadapmu. Ya, pada akhirnya aku memang menjadi orang yang berlebihan. Tapi aku berusaha tidak seperti itu.

Meski begitu kamu tetaplah kamu yang baik. Aku masih ingat saat kita terjebak kemacetan karnaval di kota Magelang, keluhmu tak pernah kudengar. Justru kita tertawa bersama karena harus tersesat mencari jalan yang masih bisa dilalui. Perjalanan ke Jogja mengantarmu menyelesaikan keperluan studi itu bagiku sangat menyenangkan. Heh! saat-saat yang tak terlupakan bagiku hanyalah hal-hal kecil. Aneh sekali kan? Aku memang aneh kan? Bagaimana menurutmu?

Meski hanya kejadian konyol di waktu yang singkat apakah kamu sedikit mengingatku? jangan tekan tombol reset-nya ya? Jangan lupakan semuanya, Berjanjilah! Aku benar-benar tak ingin meninggalkan kesan yang aneh. Jadi maukah kamu memaafkanku? Maafkan aku yang sering meminjam ponsel-mu sesukanya. Maafkan jika terkadang aku marah. Tolong banyak maafkan aku. Doa dariku, semoga kamu senantiasa diberi keberkahan. Sukses untuk studi pasca sarjana yang akan kamu lalui. Jika ada kesempatan aku ingin bertemu lagi denganmu. Dengan segala rasa hormat, terimakasih.

Bagian 2, Oktober 2016

Assalamualaikum Wr. Wb.
Salam Hormat.

Sepanjang tahun ini Jogja terasa sangat dingin ya? Tapi rasanya masih lebih dingin lokasi tempat kita melakukan pengabdian masyarakat dulu. Jika teringat hal itu, mana yang lebih kamu suka? Rasanya aku lebih suka Jogja yang panas. Aspal yang seolah olah meleleh dari kejauhan, gemerlap rumah-rumah di tepi sungai di malam hari dan aroma petrichor kala hujan tiba. Tapi ada yang lebih aku suka. Bersamamu. Terakhir kita bertemu ketika aku mengantarmu berbelanja di swalayan, sudah satu tahun lebih sejak itu. Hey, masihkah kamu ingat diriku?

Tahun sebentar lagi akan berganti. Dan musim penghujan telah mulai membanjiri. Daun-daun yang basah karena hujan sangat indah kan? Kini aku tak pernah lupa membawa jas hujan kemanapun aku pergi. Aktivitas akademik tahun ini juga terasa lebih cepat ya? Mungkin karena aku belum juga dapat meneyelesaikan tanggung jawabku. Bahkan aku menulis surat ini disela kejenuhanku mengerjakan karya studi itu. Ada banyak yang telah terjadi padaku dan sekitar hidupku. Jadi mungkin ketika bertemu denganku kamu tak akan mengenaliku. Kamu juga pastinya sedikit demi sedikit berubah bukan? Aku harap kamu menjadi lebih baik.

Cuaca dingin berlanjut. Aku lupa, Bagaimana kabarmu? Hujan telah turun tidak terhitung. Aku harap kamu menjaga kesehatanmu, dan jangan pernah lupa makan. Aku sangat terkejut mendengar ayahandamu telah tiada. Apakah kamu baik-baik saja? Aku yakin kamu baik-baik saja, karena kamu orang yang kuat. Aku pun juga berusaha menjadi sekuat itu dengan situasiku sekarang.

Bagaimana perkuliahan pasca sarjana nya? Apakah menyenangkan? Tak terasa kamu meninggalkanku cukup jauh. Tapi kali ini rasanya kita lebih jauh. Bukan hanya jarak yang sebenarnya memungkinkan kita bertemu setiap hari. Tapi kurasa aku menjadi sedikit kesepian. Sejak setahun lebih itu, aku menjadi cemas. Rasanya aku tak akan bisa memenuhi janjiku. Maafkan omong kosong itu. Sekarang aku harus mulai berpikir untuk melangkah maju dan mencoba mengikhlaskanmu.

Semoga keberkahan senantiasa bersamamu. dengan segala hormat, Aku harap kamu sehat selalu.

Bagian 3, Desember 2016

Assalamualaikum Wr. Wb.
Salam Hormat

Sepertinya aku tidak perlu menanyakan kabarmu kali ini. Karena setelah sekian lama, hampir 1,5 tahun lamanya, akhirnya kita dapat berjumpa kembali. Bahagia melihatmu tersenyum, sudah kuduga kamu akan menjadi orang yang semakin baik, aku pun sedikit gugup kala itu. Tapi sejujurnya masih banyak kata yang belum tersampaikan kala itu. Meski kita bertemu tapi, rasanya hati kita tidak di tempat itu. Mungkin karena kita tidak benar-benar menyempatkan waktu untuk hal tersebut. Akupun juga begitu, aku harus membagi waktu obrolan dengan teman yang bersama kita kala itu.

Hei, aku penasaran apa penilaianmu terhadapku sekarang, bukankah aku bisa tersenyum dengan sedikit tulus? Apakah aku terlihat berbohong saat tersenyum. Aku tidak berpura-pura tegar, tapi sepertinya kamu juga tak ingin melihat lagi wajahku yang muram kan?

Pertemuan kita bagai hamparan bintang di langit dengan sebiji perjumpaan. Terasa sangat canggung bukan? Kita menghabiskan waktu hanya untuk menentukan apa menu yang akan kita pesan di cafe kala itu, tanpa sedikitpun berbicara. Sejujurnya aku tak pernah kembali berani untuk menanyakan apa yang terjadi terhadapmu. Kamu pun mungkin begitu, sungkan untuk bertanya terhadapku. Kurasa kita punya banyak kebahagiaan yang sama. Tapi aku tak yakin kamu juga punya kesedihan yang sama pula. Aku harap tak pernah ada kesedihan yang membuatmu sakit.

Tapi jangan khawatir aku baik-baik saja. Aku juga berusaha menjadi orang yang kuat. Akan ku angkat wajahku dan aku tak ingin mengucapkan maaf untuk yang ke sekian kalinya. Karena aku tahu meminta maaf untuk kedua kalinya itu adalah sangat menyakitkan.

Jadi suatu saat nanti pasti akan ada waktu di mana aku membuat senyumanku menjadi setulus mungkin. Semoga masih ada perjumpaan yang kita habiskan di waktu yang akan datang. Aku harap akan ada hari itu.

Bagian 4, Agustus 2017

Assalamualaikum Wr. Wb.
Salam Hormat.

Maaf karena telah menuliskan berulang kali tapi hanya inilah yang dapat kulakukan. Hari di ujung bulan tanggal 31 Agustus yang penuh kisah dan pengharapan ini aku ingin menulis lembaran yang masih tersisa yang dapat kutulis. Apa kabarmu sekarang? Semoga kamu baik-baik saja dan selalu menjaga kesehatan. Kita sudah bertemu kembali sejak 1,5 tahun tak bersua. Aku sangat bahagia kita dapat melanjutkan pertemuan tersebut menjadi pertemuan-pertemuan selanjutnya. Terlebih, aku telah berhasil menyelesaikan studiku, banyak hal yang ingin aku ceritakan tentang beratnya menggapai hal tersebut, apakah kamu mengerti walau sedikit?

Aku menyukai hal yang sederhana, aku menyukai makanan lokal yang ada di kota ini, makanan yang penuh rasa manis yang disajikan dengan ramah oleh pemiliknya. Jadi, aku juga ingin kamu mengetahuinya, apakah kamu menyukainya? Aku tidak yakin, tapi kamu juga seperti menikmatinya. Aku harap kamu tidak berbohong. Selalu menyenangkan bagiku berbicara denganmu, apalagi ketika kamu juga berusaha menceritakan hal yang sedang kamu alami. Sejujurnya aku juga penasaran hal-hal apa saja yang terjadi ketika kamu mulai menempuh pendidikan pascasarjanamu. Apakah ada pria yang mendekatimu? Aku cemas memikirkan hal tersebut. Kupikir di sana akan lebih banyak sosok dewasa dan juga lebih baik dariku, mungkin, sangat mungkin. Tapi ketahuilah, selama kamu tak keberatan, perasaan ini tetaplah sama

Seperti hal yang telah kuketahui, selama aku tak menanyakanmu hal yang sangat jarang kamu menanyakan keberadaanku. Aku sangat mengerti, jadi kupikir dengan cara jarang menanyakanmu juga adalah hal yang baik untukmu, hal yang baik agar aku tak mengganggumu. Mungkin dengan begitu, masih ada kerinduan yang tinggal di hatimu, walau sedikit. Jadi kuputuskan hanya menghubungmu sesekali saja. Seminggu sekali, dua minggu sekali, atau berbulan-bulan sekali dengan harapan kamu yang akan menanyakanku terlebih dahulu. Bagiku itu bukalah hal yang merepotkan selama kamu antusias dengan apa yang ku tanyakan. Tapi, ketika pertanyaan yang jarang aku lontarkan terhadapmu semakin sulit untuk terhubung dengan jawabanmu, kupikir aku telah mengganggumu.
Ketika aku menulis surat ini jendela kamarku mulai berembun dan bulan yang mulai pucat karena pagi yang akan menjelang. Jadi setidaknya kamu harus membacanya, karena mungkin ini surat terakhir yang dapat kutulis untukmu.

Kota ini paginya kadang memiliki desir angin yang dingin ya? Desir angin yang seolah datang dari tempat yang jauh, bahkan udaranya kadang tercium sangat berbeda. Sama seperti surat ini, datang dari orang yang seolah sangat jauh untukmu. Kadang aku berpikir sejak kapan aku merelakan waktuku untuk hal yang aku sendiripun tak tahu.

Langit, awan, sungai, dan bangunan kota ini, aku menyukainya. Aku bisa melihat gunung berapi yang menjulang tinggi dari kejauhan di kota ini ketika cuacanya cerah. Aku sering menghabiskan waktu luangku berkeliling di kota ini, ketika aku sudah kelelahan barulah aku memutuskan untuk pulang. Aku juga menyukaimu, atau secara berlebihan aku mencintaimu, tapi pada akhirnya, manusia adalah makhluk yang mencintai dan di waktu yang sama ingin dicintai. Aku menggenggam keyakinanku, dan aku tahu bahwa saat ini tak ada yang perlu saling kita tunggu, aku pun sadar dalam dirikupun terdapat ketidakpastian, jadi dapat mengenalmu, berbincang denganmu sudah sangat ku syukuri. Aku tidak marah, hanya saja ini seperti menahan nafas dibawah air yang menyesakkan dan ingin segera berakhir. Oleh karena itu, bagaimana kalau mulai saat ini kita bebaskan hati kita masing-masing. Mari jalani bagianmu yang ingin kamu jalani dan akupun demikian, karena suat saat takdir yang akan membuat kejutannya bukan?

Mari kita serahkan saja kepada hari yang silih berganti menuntun langkah kita. Aku yakin angin yang baru juga akan membawa musim yang baru pada hati kita kan? Semoga ketika suatu saat takdir menuntun kita bertemu di kota yang seramai ini aku bisa menatapmu dengan senyuman yang lebih tulus.

Di kala tiba dirimu beranjak dewasa dan seraya berlalunya waktu, setiap terbit fajar yang kulihat, gemericik hujan yang kudengar dan aroma malam yang ku cium, semua akan ku tumpahkan pada senandung yang akan aku kirimkan kepadamu. Jika senandung itu masih terdengar sama, berarti kita akan tetap terjalin sejauh apapun jarak memisahkan.

Surat terakhir yang kusampaikan ini adalah kata pengganti “selamat tinggal” yang masih ku cari. Ku harap aku menyampaikan perpisahan dengan cara yang baik. Dengan segala hormat, semoga kebaikan kan senantiasa menyertaimu.

Indra Arko

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *