Lamunan Di Teras Indekos

Saat aku jatuh dalam keluhanku, aku merebahkan tubuhku yang tenggelam dalam kasur usang penuh peluh setelah hari yang panjang. Sebuah hari yang kadang tak kunjung punya senyum yang ramah. Tapi aku tidak peduli, meletakan tubuhku yang sudah jenuh dan melekat dengan pakaian yang kugunakan dari pagi hingga sore pun sudah cukup. Membentangkan tangan dengan mata terpejam, membayangkan terbang di langit, atau sekdar menghayal tenggelam dan berenang dengan penghuni laut serta mengajaknya main petak umpet di sepajang samudra. Neptunus tak akan keberatan kan? Lautnya diobok-obok oleh imaji seorang yang pikirnya sedari kecil menantang gelisah. Bukan sombong, tapi hanya sedikit lelah.

Kopi yang ku beli dari warung ketika pulang mulai dingin. Tapi, aku sendiripun heran kenapa aku belum belum beranjak dari kasurku. Sementara hujan yang memburamkan jendela kamarku makin buatku betah geletakan layaknya wedhus yang kurang pakan. Aku melihat keluar, ke jendela yang buram itu. Tapi tak terlihat apapun, tetap kelabu. Yang terlihat hanya bayangmu di dinding. Ya, pemandangan yang tak terlalu buruk.

Tapi, suara RX King itu memang kampret! Buyar sudah sudah ketenanganku sesaat. Akhirnya aku enyah juga dari sosok ideal di atas lantai itu. Tapi tak apa, aku masih punya kopi, cocok untuk temani hujan. Meski sudah dingin, namun bagiku tak masalah. Lagipula aku tak perlu ke kafe hanya sekedar untuk minum kopi. Aku juga tidak peduli kopi bermacam-macam jenis itu. Yang kutahu, kopi hitam ini bagiku juga sudah cukup. Kenapa? karena mereka simpel. Bahkan mereka tak pernah misuh meski tuannya lupa meminunya hingga dingin akhirnya. Hmm… Rasanya nikmat. Andai aku penikmat tembakau mungkin kata orang ngopi sambil “ngudud” akan lebih nikmat. Ah tapi tidak, tidak. Mungkin tidak juga.

Sekantong kopi tadi sukses membuat kehidupan jelang malamku sedikit bergairah, setidaknya aku masih bergairah untuk sekedar duduk di teras indekos yang kebetulan tinggal aku seorang saja ditinggal penghuni lain yang entah ke mana. Tapi aku tidak peduli. Sambil mendengarkan lagu Arctic Monkeys yang ku suka akupun melamun dan mencoba berfikir atas semua yang ku hadapai.

Kini dalam lamunanku muncul sebuah pertanyaan.

Sial, ini sudah tahun keberapa aku tidak pulang ke rumah?

Ya, mungkin ini sudah nyaris tahun yang ke 4 aku tak pulang ke rumah. Aku benar benar tak punya alasan untuk pulang ke rumah. Ketika orang lain Upload foto di rumah dengan caption.

Seletih apapun, sejauh apapun, dan siapapun kamu, rumah akan selalu menerimamu.

dan aku bergumam seraya mengumpat.

Rumah bukan tentang tempat tapi tentang perasaan. Dimanapun, asalkan kau dan orang sekitarmu bahagia itulah rumah.

Tapi tersadar juga bahwa kalimat tadi hanya penghiburan atas diriku yang tak berdaya menghadapi keadaan.

Iri sekali rasanya. Tapi sejak kapan aku mulai membandingkan kehidupan orang lain menjadi patokan kebahagiaanku sendiri. Bukankah aku punya kehidupanku sendiri, punya masaku sendiri, dan punya takdirku sendiri. Yang bisa ku lakukan hanya improve apa yang sudah ku punya sebisaku dan tetap dalam batas-Nya. Lagipula, andai kelak aku bisa bahagia lebih dari yang sekarang aku bisa dengan puas menertawakan keadaanku sekarang ini di masa depan. Eminem pernah berkata bahawa

Normal life is boring.

Jadi, menjadikan hidup normal sebagai tujuan mungkin terdengar menyenangkan, karena dengan begitu aku tak akan “bosan”.

Aku bukan malaikat dan juga bukan iblis, akupun hidup sembari berusaha melawan hal-hal yang kubenci. Bahkan aku sering berpikir baigamana jika aku menjadi burung yang terbang, bagaimana jika aku menjadi ikan yang berenang bebas, atau menjadi bunga yang mekar. Tapi aku berfikir seperti itu karena aku adalah manusia, jadi lumrah bukan?

Jadi, mulai hari ini aku tak perlu bersikap sinins pada “pertemuan di garis start ini”. Pada akhirnya, toh aku harus memulainya atau aku masih nol sama sekali. Meski dunia ini rumit dan kadang aku juga tak mengerti susunannya, aku tidak peduli. Daripada membual lebih baik aku terus membunyikan kebahagiaan yang kubisa, meledakkan rasa mudaku yang masih ku bisa dengan “kenakalan” paling hebat di dunia, jadi daripada berteori sudah berapa banyak antusias dan keringat yang kutumpahkan. Jadi, saat ini lentur dan pasrahlah pada alam yang senantiasa menolong siapapun yang masih berhasrat untuk hidup. Meski kita tersesat, kita tak memahami hal ini dan itu, tapi aku harus samapi ke tempat yang ku tuju dan menjadikan hari ini lebih baik. Tetap tertawalah dan berterimakasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *